Aktivis pendukung Palestina bersama kelompok hak asasi digital melakukan aksi penuntutan terhadap kantor perusahaan Facebook dikarenakan soal isu menyensor konten Palestina di platform nya terutama sejak serangan Israel di Gaza Palestina.

Dalam sebuah surat kepada Chief Operating Officer Facebook Sherly Sanberg. Mengatakan “Muak dan sangat terganggu oleh sensor baru-baru ini yang terjadi terhadap pendukung palestina di platform anda”.

Ini terjadi sejak bulan ini, dimana media sosial palestina yang memiliki postingan di Instagram dan Facebook perihal solidaritasnya terhadap keluarga yang menghadapi pengusiran paksa dari lingkungan Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur telah diblokir, disembunyikan, atau dihapus.

Dalam email pada Rabu malam, juru bicara Facebook mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kebijakan perusahaan “Dirancang untuk memberikan suara kepada semua orang sekaligus menjaga mereka tetap aman di aplikasi kami, dan kami menerapkan kebijakan ini secara setara, terlepas dari siapa yang memposting atau keyakinan pribadi mereka”.

Peningkatan yang sangat signifikan

Kelompok aktivis hak digital Palestina bernama 7amleh sebelumnya memberikan pernyataan tuduhan terhadap beberapa perusahaan media sosial termasuk Facebook, Instagram, Tiktok, dan Twitter yang bekerja sama dengan pemerintah Israel guna menyensor postingan yang mendokumentasikan pelanggaran hak yang dilakukan oleh Israel terhadap masyarakat Palestina.

Pada bulan Mei ini, Instagram memberikan penjelasan perihal masalah ini, mereka menyebutkan alasan bahwa ada bug teknis yang telah mempengaruhi jutaan postingan pada platform mereka, namun pernyataan itu dibantah oleh pakar hak digital Palestina.

Dalam sebuah laporan itu menyebutkan kelompok 7amleh telah mengumpulkan dan menyimpan dokumentasi lebih dari 500 laporan perihal pelanggaran hak digital Palestina antara tanggal 6 sampai 9 pada bulan Mei 2021.

Pada hari Selasa, kantor berita The Associated Press melaporkan bahwa ada 17 jurnalis di Gaza mengatakan akun WhatsApp mereka telah diblokir sejak Jumat, ketika gencatan senjata diberlakukan untuk mengakhiri 10 hari pemboman Israel di wilayah Palestina dan roket ditembakkan ke arah Israel. Hingga tengah hari akun media sosial mereka dipulihkan. Kata kantor berita itu di twitter akun @RepRashida.

Dari sumber lain yaitu The New York Times melaporkan bahwa pada tanggal 19 Mei, kelompok ekstremis Yahudi Israel telah membentuk setidaknya 100 group WhatsApp baru dengan tujuan melakukan tindak kekerasan terhadap masyarakat palestina ditengah ketegangan konfilik Israel di Yerusalem Timur dan Gaza.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *